Waving Hello Kitty Kaoani Hinaan Membuatku Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Skip to main content

Hinaan Membuatku Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik



Topik : Hinaan
Tema : Hinaan fisik yang kualami semasa SMP
Judul : Hinaan Membuatku Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

     Kembali ke tahun 2012 dimana saya mendapatkan nilai ujian nasional saya hanya 24,20. Sedih pasti karena tidak dapat melanjutkan ke SMP favorit seperti SMP Negri 2 Yogyakarta dan SMP Negri 5 Yogyakarta. Akhirnya ayah saya mendaftarkan saya ke SMP IT Abu Bakar. Setelah 2 hari menjalani tes disana, saya dinyatakan tidak diterima. Saya berusaha menerima dengan lapang dada. Akhirnya ayah saya mencoba lagi mendaftarkan di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta tetapi saya tidak mau, saya mau mencoba sekolah di negri saja. Akhirnya ayah saya mencarikan sekolah negri yang mau menerima saya. Akhirnya masuklah saya ke SMP Negri 2 Banguntapan. Salah satu sekolah negri dekat tempat tinggal saya yang bisa saya bilang tidak terlalu bagus dari segi fasilitas maupun sumber daya manusianya. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena saya sudah mempunyai pengalaman selama 3 tahun sekolah disana.
     Pada hari pertama masuk kelas dan bertemu teman teman baru, saya merasa minder karena tidak satupun teman yang saya kenal di sekolah ini. Mereka rata-rata sudah berteman dan bergerombol karena mereka berasal dari satu SD yang sama. saya mencoba untuk berbaur dengan mereka. Tetapi justru ejekan yang saya dapat. Hari itu benar benar hari pertama masuk kelas, saya diejek gendut, saya diejek terlihat seperti gajah yang tiap saya jalan pasti akan terjadi gempa. Saya mencoba untuk tetap tenang, tetap tabah walau dalam hati itu sangat menyakitkan. Mendapatkan ejekan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan oleh teman satu kelas membuat saya sedikit frustasi.  Tapi saya tidak boleh menyerah begini saja. Saya harus kuatkan diri saya dengan semua ejekan ini. Akhirnya tibalah tahun kedua saya di sekolah ini. Karena kelas diacak saya benar-benar tidak memiliki teman. Saya duduk sendirian di kursi pojok paling belakang. Ketika teman yang lain asik bercanda dengan teman satu mejanya, saya hanya bisa merenung diam. Ketika teman yang lain hendak ke kantin bersama atau sekedar keliling sekolah ketika jam istirahat, saya hanya bisa diam di kelas karena saya tidak berani keluar kelas pada saat itu. Saya takut mendapat ejekan lagi dari teman-teman saya yang dulu. Saya takut dilihat aneh oleh orang-orang disekeliling saya. Saya takut ditertawakan oleh orang-orang disekeliling saya. Terlalu banyak ketakutan yang saya rasakan ketika menemba ilmu di sekolah itu.
Saya merasa sangat frustasi sehingga saya sempat berpikir untuk pindah sekolah. Tapi, melihat perjuangan ayah saya yang kesusahan mencarikan sekolah untuk saya, dan fakta bahwa saya sendiri yang memilih untuk sekolah disini membuat saya mengurungkan niat itu. Saya tidak berani bilang kepada orang tua saya tentang apa yang saya alami di sekolah. Saya tidak mau membuat mereka khawatir.
     Akhirnya saya bertekad untuk diet dan mengurangi berat badan saya yang tadinya 69 saya berhasil turunkan menjadi 49 dengan perjuangan saya selama setahun. Memasuki tahun ketiga disekolah ini berat badan saya sudah turun banyak, saya mulai mendapatkan teman. Saya mulai mendapatkan kepercayaan diri saya kembali. Saya mulai bisa merasakan makanan di kantin, saya mulai bisa berkeliling sekolah tanpa takut degan omongan orang, saya merasa sangat bahagia pada saat itu. Tapi, tentu dendam masih membekas di hati tentang bagaimana mereka dulu memperlakukan saya, bagaimana mereka dulu mengatakan saya seperti gajah, melempar tas saya dan lain sebagainya. Saya tau bahwa semua ini ada hikmahnya. Saya mencoba mengambil pelajaran dari apa yang saya alami. Jika saja mereka tidak mengejek saya mungkin saya tidak akan bisa menjadi saya yang sekarang. Tentu saya akan mengucapkan terimakasih kepada kalian yang telah mengejek saya. Tanpa kalian saya pasti akan tetap menjadi saya yang dulu. Tanpa perlu kalian meminta maaf pun saya sudah memaafkan kalian.
     Dari cerita ini saya jadi ingat omongan dari Pak Hendy bahwa  attitude itu SANGAT PENTING. Itu terlihat dari bagaimana kamu berbicara, bagaimana kamu memperlakukan orang lain, bagaimana kamu menghormati orang lain. Dan sopan santun adalah kunci utama orang dapat sukses. Perlakukan orang lain seperti kamu memperlakukan itu kepada dirimu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Dilema menentukan jalan menuju masa depan

T opik  : Kebingungan T ema  : Bingung memilih untuk belajar SBMPTN atau UN Judul : Dilema menentukan jalan menuju masa depan       Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika saya bersekolah di SMA. Tahun 2015 saya resmi lulus dari SMP dan berencana melanjutkan studi ke SMA. Sebelum pemberitahuan nilai ujian nasional, saya sudah terlebih dahulu mendaftarkan diri saya untuk bersekolah di SMA swasta, jaga-jaga jika nilai saya kurang dan tidak bisa mendapatkan sekolah negri. Saya juga melakukan survei ke beberapa sekolah mulai dari swasta maupun negri. Pada saat pengumuman nilai tiba, ternyata nilaiku masih jauh dari yang aku harapkan yaitu 32,40 dengan rata-rata hanya 8,00. Padahal, saya sudah berencana untuk mendaftarkan diri saya ke SMAN 5 Yogyakarta tetapi mungkin impian itu harus saya pendam karena nilai saya yang tidak mencukupi. Setelah mengetahui nilai saya itu, saya lalu berusaha mencari sekolah negri yang de...