Waving Hello Kitty Kaoani Dilema menentukan jalan menuju masa depan Skip to main content

Dilema menentukan jalan menuju masa depan

Topik : Kebingungan
Tema : Bingung memilih untuk belajar SBMPTN atau UN
Judul : Dilema menentukan jalan menuju masa depan

     Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika saya bersekolah di SMA. Tahun 2015 saya resmi lulus dari SMP dan berencana melanjutkan studi ke SMA. Sebelum pemberitahuan nilai ujian nasional, saya sudah terlebih dahulu mendaftarkan diri saya untuk bersekolah di SMA swasta, jaga-jaga jika nilai saya kurang dan tidak bisa mendapatkan sekolah negri. Saya juga melakukan survei ke beberapa sekolah mulai dari swasta maupun negri. Pada saat pengumuman nilai tiba, ternyata nilaiku masih jauh dari yang aku harapkan yaitu 32,40 dengan rata-rata hanya 8,00. Padahal, saya sudah berencana untuk mendaftarkan diri saya ke SMAN 5 Yogyakarta tetapi mungkin impian itu harus saya pendam karena nilai saya yang tidak mencukupi. Setelah mengetahui nilai saya itu, saya lalu berusaha mencari sekolah negri yang dekat dengan rumah tetapi masih mau menerima saya.
     Akhirnya, masuklah saya ke SMAN 1 Banguntapan. Sekolah yang membuat saya hanya membutuhkan waktu 10 menit saja untuk sampai. Pada saat masuk ke sekolah itu, saya merasa sangat percaya diri daripada ketika saya dulu di SMP. Banyak teman-teman SMP saya juga masuk ke sekolah itu. Pada awal masuk, semua orang sangat ramah dan baik kepada saya. Saya tidak mendapatkan bullian seperti ketika saya SMP dulu. Mungkin karena berat badan saya yang sudah turun banyak, dari 69 menjadi 52 pada saat itu. Saya mulai mendapatkan kepercayaan diri saya kembali dan mulai bisa bergaul dengan teman-teman yang lain. Saya mendapatkan banyak teman baru disini. Saya merasa sangat senang dan mulai merubah diri saya. Saya jadi kenal dengan makeup dan softlens. Ketika kelas 1 saya ingat bahwa saya bahkan memakai blush on ketika hendak bersekolah. Tetapi saya mulai menyadari bahwa hal itu tidak perlu dan terlalu berlebihan untuk anak SMA, teman saya juga lebih menyukai saya apa adanya. Setelah melalui masa-masa pengenalan selama 2 tahun, saya akhirny naik ke kelas 3.
     Disini mulai banyak masalah terjadi. Saat itu saya merupakan siswa jurusan IPA tetapi hati, jiwa dan raga saya sebetulnya menginginkan saya untuk belajar IPS. Ketika hampir memasuki masa-masa ujian nasional, saya sempat kerasa stres dikarenakan jurusan yang saya hendak ambil pada saat kulian nanti adalah IPS atau SOSHUM tetapi saya sekarang berada di jurusan IPA yang mewajibkan saya untuk mempelajari fisika, kimia, biologi yang sama sekali bukan minat saya. Saya sempat bingung apakah saya harus belajar IPA untuk ulangan ataukah saya belajar IPS untuk masuk perguruan tinggi. Otak saya merasa tidak sanggup apabila saya mengerjakan dua-duanya sekaligus. Alhasil saya memilih belajar IPA yang saat itu merupakan pilihan yang salah buat saya. Saya memaksa diri saya untuk memahami fisika, kimia dan biologi. Sampai akhirnya nilai saya turun dan saya tidak bisa mendaftarkan diri saya di SNMPTN tetapi itu bukan akhir segalanya. Saya sedikit-sedikit mempelajari tentang SOSHUM sambil belajar tentang materi ulangan dan ujian nasional yang saya ambil yaitu biologi. Saya juga saat itu mengambil les bimbingan belajar di dua tempat. Tempat yang pertama yaitu GO dan yang kedua yaitu ENS. Saya mulai merasa ragu untuk bisa tembus masuk ke PTN. Karena saya mulai tidak bisa mengatur jam belajar saya. Pada saat Ujian Nasional, saya hanya mengerjakan sebisa saya. Saya tidak terlalu mementingkan UN, yang lebih saya pentingkan adalah tes SBMPTN dan STAN.
     Akhirnya masa-masa SBMPTN saya segera tiba. Saya merasa  tidak percaya diri karena saya memang kurang belajar. Setelah selesai tes SBMPTN, mulailah saya mempersiapkan materi untuk tes STAN dan SM jikalau saya tidak lolos di SBMPTN. Dan masa-masa pengumuman tiba, saya membuka web dengan hati cemas. Ternyata kecemasan saya benar, saya tidak lolos di SBMPTN. Saya lalu berusaha untuk membuat diri saya bahagia, tetapi melihat bahwa teman-teman saya yang berjuang sama dengan saya keterima membuat saya merasa sedih namun bahagia. Saya bahagia mereka keterima di perguruan tinggi yang mereka harapkan, tetapi saya sedih karena saya tidak bisa mengikuti jejak mereka. Setelah pengumuman SBMPTN itu, keesokan harinya saya mengikuti tes STAN. STAN cenderung lebih mudah dibanding SBMPTN karena tidak ada SOSHUM maupun SAINTEK. Tetapi, sayangnya saya terlalu gugup dan terlalu cepat mengerjakan soal sehingga saya tidak bisa masuk ke PTK tersebut. Hal yang benar-benar saya sedihkan adalah mengetahui orang tua saya pasti akan merasa kecewa karena mereka mengharapkan saya masuk ke STAN. Bahkan mereka rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memasukkan saya ke bimbel. Tetapi, saya mengecewakan mereka. Saya lalu mengikuti tes SM di UGM. Saya memang hanya mendaftar di dua tempat yaitu UGM dan STAN. Saya tidak terlalu berminat bersekolah di UIN, UNY, dan UPN. Walaupun mereka sama-sama perguruan tinggi negri. Tetapi tes SM pun belum bisa membuat saya masuk ke Universitas negri nomor satu di jogja itu.

     Tetapi saya tidak patah semangat. Jauh sebelum Ujian Nasional, saya sudah terlebih dahulu mendaftarkan diri saya untuk berkuliah di Universitas Islam Indonesia. Saya mengambil tes CBT dan berhasil lolos walaupun dengan ranking terendah. Setelah berkali-kali di tolak masuk ke perguruan tinggi, akhirnya saya mantap untuk melanjutkan studi di UII. Saya mencoba untuk ikhlas dan menerima semuanya dengan lapang dada. Saya tau bahwa inilah yang terbaik untuk saya menurut Allah SWT. Saya tidak boleh menentang kehendak-Nya. Saya harus menyukuri semuanya. Saya pun ingat suatu pesan dari Ibu saya bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan dari mana ia bersekolah, tetapi dari keteguhan dan kerja keras masing-masing individu. Itulah yang membuat saya semangat sampai sekarang. Semua ini tidak akan terjadi jika tidak ada dukungan dari orang tua saya. Saya janji, saya akan membahagiakan mereka suatu saat nanti.




Comments

Popular posts from this blog

Hinaan Membuatku Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Topik : Hinaan Tema : Hinaan fisik yang kualami semasa SMP Judul : Hinaan Membuatku Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Baik       Kembali ke tahun 2012 dimana saya mendapatkan nilai ujian nasional saya hanya 24,20. Sedih pasti karena tidak dapat melanjutkan ke SMP favorit seperti SMP Negri 2 Yogyakarta dan SMP Negri 5 Yogyakarta. Akhirnya ayah saya mendaftarkan saya ke SMP IT Abu Bakar. Setelah 2 hari menjalani tes disana, saya dinyatakan tidak diterima. Saya berusaha menerima dengan lapang dada. Akhirnya ayah saya mencoba lagi mendaftarkan di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta tetapi saya tidak mau, saya mau mencoba sekolah di negri saja. Akhirnya ayah saya mencarikan sekolah negri yang mau menerima saya. Akhirnya masuklah saya ke SMP Negri 2 Banguntapan. Salah satu sekolah negri dekat tempat tinggal saya yang bisa saya bilang tidak terlalu bagus dari segi fasilitas maupun sumber daya manusianya. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena saya...